Pages

Showing posts with label education. Show all posts
Showing posts with label education. Show all posts

Thursday, December 16, 2010

Penggunaan contoh kehidupan sehari-hari dalam kelas

Di sekolah dan kuliah, peserta didik (murid atau mahasiswa/i) menerima banyak bahan ajar dari pengajar. Beberapa pengajaran bersifat abstrak dan beberapa berhubungan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Dosen atau guru yang baik sebaiknya tidak berada di menara gading pendidikan namun juga perlu menginjak bumi dengan memberikan contoh kehidupan sehari-hari dalam kelasnya.

Bulan ini, aku mengikuti webinar berjudul "Using Everyday Engineering Examples in the Classroom". Webinar ini ditujukan untuk pendidikan teknik. Akan tetapi, beberapa pesan berguna juga untuk memberi gambaran bagaimana seorang dosen/guru mengajar dengan memberikan contoh dalam realitas keseharian. Rekaman webinar dapat dilihat di bawah ini.






ENGAGE Everyday Engineering Examples Webinar Dec, 2, 2010 from WEPAN KnowledgeCenter on Vimeo.

Interaksi Dosen dan Mahasiswa

Inti sari pendidikan terletak pada interaksi antara guru dan murid. Dalam kehidupan perguruan tinggi, antara dosen dan mahasiswa/i. Dalam UU Pendidikan, antara pendidik dan peserta didik. Secanggih apapun fasilitas pendidikan, jika interaksi antara guru dan murid tidak baik, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, pendidikan kehilangan maknanya dan kedua belah pihak tidak akan mendapatkan manfaat berarti.

Contoh interaksi yang buruk dari segi kuantitas:
  • guru tidak datang ke kelas atau kehadiran guru di bawah standar (hal ini biasa terjadi di kampus perguruan tinggi negeri dan di daerah terpencil yang kekurangan guru)
  • murid membolos

Contoh interaksi yang buruk dari segi kualitas
  • guru hadir ke kelas, tapi tidak menyiapkan bahan ajar. (hal ini juga terjadi di kampus perguruan tinggi negeri)
  • murid datang ke kelas tapi tidur atau tidak konsentrasi
  • guru tidak memeriksa pekerjaan murid
  • murid tidak mengerjakan tugas

***

Bulan lalu, sempat ikut webinar berjudul "Improving Faculty/Student Interaction". Di sana terdapat banyak informasi yang berguna untuk menjadi dosen yang baik, atau secara umum, pengajar yang baik. Di bawah ini rekaman webinar tersebut.





ENGAGE Strategy: Improving Faculty/Student Interaction from WEPAN KnowledgeCenter on Vimeo.

Saturday, October 10, 2009

Teaching content is teaching reading

I found a good slide about reading after I read Christopher Dawson's article. This slide tell us that you need a prior knowledge to understand what you read. This slide explains why reading strategies (in language courses) cannot help you in reading comprehension test like in school exams, TOEFL, IELTS, FCE, CAE, Test DaF, Zertifikat Deutsch, DSH and many other language test. Reading comprehension requires prior knowledge.

Knowledge matters to reading. That sentence is mentioned in the slide. I have a friend, called Rudolf Surya Bonay, who has done DSH test (a German language test for entering university). He did the test well because he had a feeling that World War II would be in the exam. He searched information about the war in the internet. The language test had indeed a lot of question about the war because there was 60 years celebration of the end of World War II at that time. Another sentence in the video is "Knowing the subject makes you good reader".

After watching the slide, I realised that reading religious text (like Bible, Quran, and so on) could have the same problem. People have different prior knowledge so they interpret religious text differently. For example, I have no experience of being a shepherd, planting figgs, killing people from another religion and so on. The people (or society) who "teach" me religion (and/or theory about religion) give me some experience or knowledge which make me different from other people on other part of the world. My religious believe is not the same as other. It is a pity that there is a group of religious people forcing others to believe what they believe.

Back to the slide, at the end there is a sentence "Teaching content is teaching reading". Enjoy it!

***


***

Slide di atas kutemukan setelah membaca artikel Christopher Dawson. Slide tersebut menggambarkan bahwa untuk bisa mengerti suatu wacana, kamu harus memiliki pengetahuan sebelumnya. Slide ini menjelaskan mengapa strategi membaca (di tempat kursus bahasa) tidak cukup membantu dalam tes "reading comprehension" dalam ujian sekolah, TOEFL, IELTS, FCE, CAE, Test DaF, Zertifikat Deutsch, DSH, dan berbagai tes bahasa lain. Kalimat pentingnya adalah "Reading comprehension requires prior knowledge".

Knowledge matters to reading. Kalimat ini ada dalam slide tersebut. Temanku, Rudolf Surya Bonay, telah mengerjakan ujian DSH (suatu ujian bahasa Jerman untuk masuk universitas). Dia mengerjakan ujian dengan baik karena dia dapat firasat kalau topik Perang Dunia II bakal keluar. Lalu dia mencari informasi perang itu di internet. Ternyata benar, topik itu banyak keluar di ujian karena tahun ini sedang ada 60 tahun perayaan berakhirnya Perang Dunia II. Kalimat lain dalam slide yang penting adalah "Knowing the subject makes you good reader".

Setelah menonton slide itu, aku sadar bahwa membaca teks religius (seperti Alkitab, Al Quran) akan memiliki masalah sama. Manusia memiliki perbedaan pengetahuan awal maka mereka menginterpretasi teks religius berbeda-beda. Contohnya aku tak pernah punya pengalaman sebagai penggembala domba, menanam pohon ara, membunuh orang yang beragama beda, dll. Orang-orang (atau masyarakat) yang "mengajariku" agama (dan/atau teori tentang agama) memberiku pengalaman dan pengetahuan yang berbeda dengan orang lain di belahan dunia lain. Kepercayaanku berbeda tidak sama dengan yang lain. Sayang sekali masih ada orang yang memaksakan kepercayaannya kepada yang lain yang berbeda.

Kembali ke slide, pada bagian akhir terdapat kalimat "Teaching content is teaching reading". Silahkan ditonton!

Monday, December 29, 2008

Dosen sibuk?

Melanjutkan tulisan saya yang banyak kaga nyambung sebelumnya...
Aku ingin tahu seberapa sibukkah dosen seharusnya?

Seorang buruh bekerja 40 jam kerja per minggu. Kalau berlebih, maka disebut lembur.
Nah, seorang dosen seharusnya bekerja secara mirip. Bedanya adalah adanya sistem kredit semester (SKS).

Perlu diingat,
1 SKS = 3 jam kerja

Seorang dosen memiliki kewajiban mengajar berupa Tridharma Perguruan Tinggi, yang terdiri dari
1. Pendidikan dan Pengajaran
2. Penelitian
3. Pengabdian kepada Masyarakat


I. Pendidikan dan Pengajaran

Komponennya:
- memberi kuliah (1 sks = 3 jam kerja)
- membimbing mahasiswa dalam Tugas Akhir (1 mahasiswa/semester = 2 jam kerja)
- menguji mahasiswa dalam Tugas Akhir (6 mahasiswa/semester = 1 jam kerja)
- menjadi dosen wali (20 mahasiswa = 1 jam kerja)
- membuat diktat kuliah (1 diktat/tahun = 1 jam kerja)

Nah, seorang buruh bekerja 40 jam kerja. Seorang dosen politeknik wajib menjalankan Dharma Pendidikan sebesar MINIMAL 40% jam kerja dan dosen universitas dan institut wajib menjalankan MINIMAL 30% waktunya untuk ini.

Anggap saja, seorang dosen menghabiskan waktunya 40% untuk Dharma I.
40% dari 40 jam = 16 jam
16 jam / 3 jam = 5 sks sisa 1 jam.

Jadi 16 jam kerja (atau 5 sks plus 1 jam kerja) adalah jam kerja wajib seorang dosen untuk Dharma Dikjar ini.


Cara memenuhi jam kerja wajib ini:

Pertama, seorang dosen mengajar 6 sks, maka dia sudah melewati jam mengajar minimal.

Kedua, seorang dosen mengajar 5 sks, lalu membuat 1 diktat kuliah per tahun.

Ketiga, seorang dosen mengajar 4 sks, membimbing 2 mahasiswa dalam menjalankan Tugas Akhir selama 1 semester.

Dan kemungkinan lainnya. Tapi contoh di atas, terjadi ketika dosen memenuhi kewajiban minimalnya.


II. Penelitian

Komponennya:
- menjadi peneliti utama (1 topik/tahun = 10 jam kerja)
- menjadi peneliti tidak utama (1 topik/tahun = 5 jam kerja)
- menjadi penulis utama untuk jurnal ilmiah (1 judul/2 tahun)

Nah, seorang buruh bekerja 40 jam per minggu.
Seorang dosen wajib meneliti MINIMAL 25% dari jam kerjanya.

25% dari 40 jam = 10 jam kerja


Cara memenuhi jam kerja wajib ini:

Pertama, seorang dosen menjadi peneliti utama 1 topik per tahun.

Kedua, seorang dosen ikut tim penelitian untuk 2 topik per tahun.

Yang namanya penelitian pasti harus dipublikasi, jadi harus ada yang masuk jurnal ilmiah terakreditasi.


III. Pengabdian kepada Masyarakat

Sebetulnya jam kerja minimal hanya untuk Dharma I dan II sedangkan Dharma III, yaitu Pengabdian kepada Masyarakat tidak memiliki jam kerja minimal. Beberapa kegiatan Dharma III juga banyak kemiripan dengan Dharma II, karena sama-sama meneliti dan kadang ada yang dipublikasi dalam bentuk paper. Akan tetapi seorang dosen wajib menjalankan Dharma ini dalam karirnya.

Komponen:
- mengadakan pelatihan insidental kepada masyarakat (1 topik/semester = 1 jam kerja)


Cara dosen bekerja di bidang ini

Pertama, mengadakan training/pelatihan kepada masyarakat

Kedua, membuat teknologi aplikatif untuk masyarakat lalu mendampingi masyarakat menggunakan teknologi tersebut. Jadinya dosen bisa memenuhi jam kerja meneliti sekaligus melakukan pengabdian kepada masyarakat

Dan masih banyak kemungkinan lain.


IV. Administrasi dan Manajemen

Tridharma bukannya cuma ada tiga? Kok ada yang keempat?

Yang keempat ini bukan bagian Tridharma, tapi bagian dari kerjaan dosen lainnya.
Kadang-kadang dosen harus memegang beberapa jabatan yang bukan
- Rektor
- Wakil Rektor/ Pembantu Rektor
- Dekan
- Pembantu Dekan
- Kepala Jurusan
- Sekretaris Jurusan
- Kepala Laboratorium
- Kepala Lembaga Penelitian
- Kepala Lembaga Pengabdian Masyarakat


Akan tetapi, Dosen harus menjalankan pekerjaan administratif lain yang tidak termasuk Tridharma, misalnya
- Koordinator Perpustakaan Jurusan
- Panitia 17 Agustus-an
- Panitia Penyambutan Mahasiswa Baru
- Panitia Akreditasi
- Panitia Pameran
- Panitia Seminar
- Panitia Konferensi
- Panitia Wisuda
- dll


Apakah kamu betul-betul dosen sibuk?

Sunday, September 14, 2008

Berapakah dosen harus digaji?

Menurut upah minimum 2008 di sini, UMP Jawa Tengah adalah Rp 547.000,-. Dan kebetulan aku adalah seorang dosen di Semarang.
Upah minimum tersebut untuk 40 jam kerja per minggu.
Kalau satu bulan diasumsikan 4 minggu, maka upah itu untuk 160 jam kerja.
Jadi pada jam kerja wajib, upah pekerja per jam di Semarang adalah Rp 3.418,75.
Di Bremen, Jerman, upah yang kudapat per jam adalah 6 hingga 7,3 euro per jam.


Lalu ada Surat Dirjen Dikti No. 3298/D/T/99 tanggal 29 Desember 1999, tentang beban kerja dosen.

1 sks mengajar mata kuliah itu setara 3 jam kerja.
Isinya:
1 jam mempersiapkan mata kuliah
1 jam tatap muka di kelas
1 jam evaluasi
(total memang 3 jam kerja)

Membimbing 1 orang mahasiswa per semester, setara 2 jam kerja.
(membimbing tugas akhir/skripsi)

Menguji Tugas Akhir mahasiswa (Sidang), 6 orang mahasiswa per semester, setara 1 jam kerja.

Menjadi dosen wali untuk 20 mahasiswa, setara 1 jam kerja.

Membuat 1 diktat kuliah per tahun, setara 1 jam kerja.

Kalau tadi tentang pendidikan dan pengajaran, sekarang beban kerja meneliti.

Menjadi peneliti utama, untuk 1 topik per tahun, setara 10 jam kerja.

Kalau jadi peneliti tidak utama, setara 5 jam kerja.

Menjadi penulis utama, untuk jurnal terakreditasi, 1 judul makalah per 2 tahun, setara 1 jam kerja.

Selain meneliti, ada juga pengabdian masyarakat.

Mengadakan pelatihan insidental untuk masyarakat, 1 topik per semester setara 1 jam kerja.

Selain Tridharma Perguruan Tinggi (dikjar, penelitian, dan pengabdian), ada kegiatan lain, yaitu manajemen dan administrasi.

Aktif dalam 1 kepanitiaan per tahun setara 1 jam kerja.

Mari kita hitung beban kerjaku saat menjadi dosen dulu
Mengajar 8 sks = 24 jam kerja
Menjadi dosen wali untuk sekitar 80 mahasiswa = 4 jam kerja
Meneliti 1 topik = 10 jam kerja
Mendampingi masyarakat, 2 topik = 2 jam kerja
Menjadi Koordinator Pustaka = 1 jam kerja
Ikut Panitia Akreditasi = 1 jam kerja
Ikut Panitia Seminar = 1 jam kerja
Ikut Panitia Penyambutan Mahasiswa Baru = 1 jam kerja

Total 24 + 4 + 10 + 2 + 4 = 44 jam kerja
Ternyata aku kaga sibuk-sibuk amat. Gajiku juga di atas upah minimum.

Nah, tapi dosen-dosen yang lebih senior bisa mengajar 12 sks (36 jam kerja), kapan dia sempat meneliti?