Pages

Showing posts with label christmas. Show all posts
Showing posts with label christmas. Show all posts

Saturday, December 27, 2014

Selamat Natal 2014

Selamat Natal 2014 - Don't Shoot!

Hari ini Natal Hari kedua dan aku lupa lagu "Twelve Days of Christmas". Pada lagu tersebut, ada penjelasan 12 hari Natal itu apa saja, dari tanggal 25 Desember hingga 5 Januari. Bulan Desember ini, aku merasakan jadi panitia Natal Perki Bremen, seperti yang telah kuceritakan pada Catatan Berdarah Mahasiswa Doktoral, 10 Desember 2014. Natal Perki Bremen diadakan pada bulan purnama, saat Sabtu 6 Desember 2014. Bagai pungguk yang merindukan bulan, purnama selalu punya nuansa mistis romantis. Walau aku tak merenungkan apa beda purnama di Jakarta dan New York, namun aku bertanya-tanya apa beda purnama di Bandung dan Bremen. Pertanyaan ini tidak kusimpan dalam hati, melainkan kutanyakan pada mantanku di Bandung.



Selain acara Natal Oikoumene bersama Perki Bremen, aku juga merasakan Weihnachtsfeier atau lebih tepatnya Weihnachtsessen (Makan-makan Natal) di Oldenburg. Acara Weihnachtsessen pertama adalah Rabu 3 Desember 2014, bersama mahasiswa-mahasiswi doktoral. Aku sudah lama tidak gabung acara bareng PhD student di Oldenburg dan tidak kenal pendamping baru acara kumpul-kumpul PhD. Jadi aku ikuti acara Natal ini. Aku menikmati acara makan-makan gratis ini. Setelah acara ini, terbentuklah grup Whatsapp PhD.

Acara Weihnachtsessen kedua adalah Jumat 12 Desember 2014, bersama rekan kantor Jade HS Oldenburg. Seperti biasa, kami berjalan ke pasar Natal yang bernama Lamberti-Markt Oldenburg. Kami minum Glühwein dan kemudian pergi makan-makan ke restoran. Kali ini, restorannya bertema Bavaria (Bayerisch). Aku pun terkenang masa-masa tinggal di Nürnberg, Bayern, dulu. Berhubung minuman pertama itu gratis untukku (karena dibayari oleh kantor) dan aku tidak mau rugi, aku pun membeli 1 Maß bir Bavaria (1 Maß = 1 liter). Aku pun menikmati makanan all-you-can-eat dari buffet. Seperti pepatah Jawa, "mangan ora mangan sing penting ngumpul", orang Jerman punya filosofi "Gemütlichkeit". Aku kekenyangan dan sepertinya bakal muntah karena over-eating dan over-drinking. Tapi jalan kaki dari restoran ke stasiun meredakan rasa ini.

Akhirnya, pada malam Natal, aku mengikuti misa Heiliger Abend di gereja St. Johann, Bremen. Langit cerah tidak gerimis maupun badai. Angin dingin pun mengalun gemulai bagaikan ksatria berpedang yang kadang menusuk tubuh dan kadang mengiris leher. Dalam gereja begitu hangat, karena sesak oleh pengunjung. Gereja St. Johann berada di pusat kota, jadi sepertinya turis pun akan masuk ke gereja ini kalau ingin merayakan misa Katolik.

Entah kenapa, Natal tahun ini, aku merasa kesepian. Apakah ini karena dinginnya udara? Apakah ini karena aku sudah tak tahu apa peranku dalam kehidupan sosial di Bremen. Kawan-kawan mainku di Bremen dulu telah berpindah kota atau negara. Yang masih ada di Bremen, sedang menikmati kehangatan bersama keluarga masing-masing. Aku merenungkan bahwa semenjak lulus master dan merasakan kerja di Jerman, aku mengalami peningkatan kemampuan bahasa pemrograman namun mengalami penurunan kemampuan bahasa manusia. Aku sudah tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain dengan baik. Aku merasakan ada bagian diriku yang tercuri oleh kejamnya sistem kapitalisme dalam industri Jerman.

Seperti Natal 2013, pada Natal 2014 ini, aku datang tidak diundang pada acara bersama muda-mudi Katolik di Bremen, yang kutemui usai misa di St. Johann. Alasannya adalah aku lagi tidak mau kesepian dan entah kenapa masa-masa ini aku lagi tertarik dengan berita bunuh diri dan tulisan tentang cara-cara bunuh diri. Jadi aku mengambil resiko datang ke acara yang aku tak diundang. Aku membawa sekantong jeruk supaya tanganku tidak hampa. Untung, aku diizinkan masuk. Aku mendengarkan obrolan kawan-kawan. Rasa kesepianku lumayan terobati.

Aku juga merenungkan bahwa banyak hal dari diriku yang harus kuperbaiki tahun 2015, supaya aku bisa bergaul bareng kawan-kawan yang muda-mudi ini. Berat juga harus bergaul bersama orang yang umurnya lebih muda 10 tahun dariku. Namun kaum muda seperti inilah yang memberiku lingkaran penting bagi dunia perjodohanku. Wanita seumuranku sih sudah berkeluarga dan untuk menjadi jodohku, dia harus jadi janda dulu atau kurebut dari suami orang dulu.

***

Kotbah pada Misa Malam Natal 2014 di St. Johann berisi "Don't Shoot". Kata-kata ini diambil dari "Christmas Truce" atau "Weihnachtsfrieden", 100 tahun lalu, ketika Perang Dunia I (wiki: en,de,id). Ketika itu, pada Malam Natal 1914, tentara Inggris dan Jerman di Front Barat melakukan gencatan senjata. Mereka pun bertukar suvenir dan makanan. Saat itulah, Damai Natal menjadi begitu bermakna bagi orang Eropa.

Sementara itu, di Amerika Serikat, di bulan Desember, ada beberapa demonstrasi bertema "Hands Up! Don't Shoot!" (fb, wiki: en). Demo ini dilakukan untuk memperingati kasus penembakan oleh polisi, yang memakan korban pemuda kulit hitam tak bersenjata. Di Ferguson, Missouri, Amerika Serikat, seorang polisi kulit putih bernama Darren Wilson berkali-kali menembaki seorang pemuda kulit hitam yang tak bersenjata bernama Michael Brown (wiki: en,de). Kemudian terjadilah demonstrasi besar-besaran di Ferguson pada bulan Agustus 2014 (wiki: en). Sebagian demonstrasi damai dan sebagian lain tidak. Kritik media Amerika Serikat terdapat pada militerisasi polisi. Polisi menggunakan gas air mata dan menggunakan sniper yang diarahkan kepada demonstran dan wartawan. Pada akhir bulan November, polisi yang menembak dinyatakan tidak bersalah oleh juri. Hal ini menimbulkan demonstrasi di lebih dari 100 kota di Amerika Serikat dengan tema "Hands Up! Don't Shoot!". Di New York, sebagian demonstran ingin memadamkan lampu pohon Natal di Rockefeller Center.

Jadi apa beda pohon Natal di Jakarta dan New York?

Tidak ada perdamaian tanpa keadilan, kata banyak orang dari zaman dahulu hingga kini. Gereja Katolik Roma pun memberikan pesan perdamaiannya tentang hubungan antara perdamaian dan keadilan, dengan Pesan Paus Yohanes Paulus II tanggal 1 Januari 2002 pada perayaan World Day of Peace "No peace without justice. No justice without forgiveness." dan dengan "Gaudium et Spes" hasil Konsili Vatikan II, tahun 1965. Jadi damai Natal menjadi relevan ketika seseorang turut proaktif dalam perjuangan manusia untuk mencari keadilan.

Aku pun teringat bahwa segenap perjuangan politik yang kulakukan secara sederhana di tahun 2014 ini berdasarkan solidaritasku untuk mereka yang mencari keadilan ketika hak asasi mereka sebagai manusia terinjak-injak di tahun 1965, 1998, dll, bahkan tahun ini di Papua. Walau perjuangan ini tak sempurna di tahun ini, aku yakin bahwa perjuangan melawan angkara murka akan menemukan caranya sendiri untuk bertahan.

Semoga damai Natal beserta kita!
Teruskan perjuangan melawan ketidakadilan!
Darah Juang!

***

Tulisan Natal yang lalu


Menghitung berapa Natal yang kulalui di Jerman.

***

Wilujeung Natal!
Sugeng Natal!
Rahajeng Natal!

Frohe Weihnachten!
Merry Christmas!
Eid Milad Majid!


Bremen, 26 Desember 2014

iscab.saptocondro

Wednesday, December 26, 2012

Selamat Natal 2012

Sekarang hari kedua Natal, yaitu 26 Desember 2012. Ini Natal ketujuh di Jerman. Kali ini kunikmati malam Natal bersama keluarga Rayendra di Bremen, dilengkapi oleh Ibu Polwan dan Hesti. Lalu kujalani hari pertama dan kedua Natal dalam kesendirian dan perenungan. Aku beryukur atas kembalinya aku ke Bremen dan atas pekerjaan baruku. Frohe Weihnachten, euy!

Tahun lalu, kurayakan Natal di Nürnberg bersama kawan-kawan baru. Hari itu kupakai beryukur atas pekerjaan pertama di Jerman sebagai tukang insinyur. Waktu itu, kusangka aku akan tinggal lama di Bayern dan bekerja di sana. Tapi ternyata takdir mengirim surat kepada kosmos sehingga secara kosmologi aku tak cocok tinggal di sana dan kini kembali ke Bremen. Entah sampai berapa lama, tapi kujalani hidup ini secara Carpe Diem aja deh. Merry Christmas, euy!

Dua tahun lalu, kurayakan Natal di Bremen, dan aku tak punya ingatan apa yang terjadi hari itu. Tidak kutorehkan sesuatu tentang Natal di blogku. Yang kurasakan saat itu, hanyalah gabungan eforia lulus kuliah Master dan kegalauan seorang pemuda pengangguran yang hidup dalam ketidakpastian mengenai masa depannya. Namun mimpi Eropaku saat itu tidak pernah padam. Selamat Natal, euy!

Tiga tahun lalu, kuterima banyak ucapan Selamat Natal dari orang-orang yang tidak kukenal (dekat). Tahun ini kupuas karena yang memberi pesan Natal kepadaku hanya mereka yang dekat di hatiku saja. Memiliki 2000 kenalan Facebook dan lebih dari 200 kawan di address book telponku tidak memungkinkan aku memberikan pesan Natal yang personal. Kalaupun personal, sebagian dari mereka bakal mem-forward pesanku sehingga tidak menjadi personal. Kugabungkan saja pesan Natalku di blog tiga tahun lalu. Aku bersyukur memiliki kenalan di dunia nyata dan maya, jauh maupun dekat, baik jarak di hati maupun jarak geografis. Sugeng Natal, euy!

Tiga tahun lalu, kurayakan Natal sebagai manusia yang patah hati. Tahun tersebut aku kehilangan pekerjaan dan cinta seorang perempuan. Di satu sisi, aku sudah bukan burung dalam sangkar lagi. Di sisi lain, aku adalah Rajawali Sakti yang bisa merentangkan sayapnya lebar dan terbang tinggi serta jauh menjelahi angkasa. Namun burung yang terbang tinggi adalah burung yang menjejakkan kakinya terlebih dahulu pada sesuatu yang kokoh. Aku belum punya pijakan yang kokoh saat itu. Aku harus membangun rasa percaya diriku yang hancur sebelum terbang tinggi menggapai mimpi. Wilujeung Natal, euy!

Aku teringat cintanya yang selalu memberiku hidup. Tapi cinta seperti ini tidak sehat. Hidup harus bisa bangkit dari diriku sendiri dan memancar bagi manusia di sekitarku. Aku pun belajar supaya menjadi mandiri dalam menjadi manusia berbahagia. Kalau tidak bisa membangkitkan kebahagiaan dari dalam diri sendiri, aku takkan mungkin bisa membagi kebahagiaanku kepada sesama dan hanya akan menjadi benalu cinta bagi orang lain. Kini aku memiliki kendali atas emosi yang kumiliki. Namun aku yakin perjalanan cintaku belum berakhir. Feliz Navidad, euy!

Empat tahun lalu, kurayakan Natal ketiga di Bremen. Ingatan yang kumiliki hanyalah saat itu, aku memulai blogging menggunakan Wordpress. Perasaan yang kuingat saat itu adalah aku dihinggapi kecemasan seorang mahasiswa yang tidak lulus-lulus. Selain itu, aku juga tak tahu apa tujuan hidupku saat itu. Aku dihadapkan pada suatu dilema apakah aku sebaiknya mennyelesaikan kuliahku dengan cara DO alias batal atau dengan cara lulus hingga akhir. Masing-masing memiliki konsekuensinya. Kini aku bersyukur atas pilihanku sehingga memiliki jalan hidup seperti hari ini. Joyeux Noel, euy!

Lima tahun lalu, kurayakan Natal kedua di Bremen. Saat itu kurayakan pesta lintas agama dan lintas budaya. Sepulangnya kutuliskan pesan Natalku tentang Indonesia. Aku bersyukur bisa punya pengalaman lugu dan naif di Jerman saat itu. Wesolych Swiat, euy!

***

Buatku Natal tahun ini adalah perjalanan. Perjalanan Yosef dan Maria yang hamil tua menuju Yerusalem. Saat itu, mereka harus pergi ke sana untuk mengikuti sensus penduduk yang diselenggarakan Pemerintah Romawi. Mereka pun secara taat hukum kembali ke daerah asalnya. Walau hamil tua, perjalanan jauh harus diarungi oleh Bunda Maria.

Buatku Natal tahun ini adalah perjalanan. Perjalanan kaki petani Jambi sejauh 1000 km ke Jakarta menuntut hak-haknya yang dirampas perkebunan sawit. Perjalanan yang jauh dan penuh pengorbanan. Ada yang tertabrak motor maupun truk.

Buatku Natal tahun ini adalah perjalanan. Perjalanan umat gereja HKBP Filadelfia di Bekasi menuju Gerejanya untuk merayakan Natal. Perjalanan yang penuh darah dan air mata. 

Buatku Natal tahun ini adalah perjalanan. Perjalanan seorang anak manusia mencari jati diri, merantau ke Jerman menggapai mimpi. Segenap kesukaran harus dilalui karena perjalanan spiritual adalah suatu yang harus dihadapi oleh setiap manusia yang ingin dewasa dalam iman. 

Dalam suatu perjalanan, selalu ada pemberhentian.
Maria dan Yosef harus berhenti sejenak untuk mempersiapkan kelahiran bayi Yesus. Seorang yang kelak akan mengguncang dunia, baik dalam iman maupun dalam sejarah.
Petani Jambi harus berhenti sejenak dan menggalang massa di tempat pemberhentiannya. Mereka harus mempersiapkan kelahiran suatu semangat perubahan. Perubahan yang mengguncang dunia.
Aku harus berhenti sejenak untuk mempersiapkan kelahiran semangatku. Semangat yang bergelora menghadapi tahun 2013 dengan pekerjaan baru beserta segenap tantangannya. Semangat untuk menyambut setiap kesempatan yang ada.

Kisah Natal adalah suatu penolakan terhadap keangkuhan suatu kekuasaan. Maria dan Yosef harus menghadapi keangkuhan orang-orang yang menolak mereka untuk menginap sementara ketika Maria ingin melahirkan. Keangkuhan Herodes, raja Israel saat itu juga yang mengancam nyawa bayi Yesus. Namun kerendahan hati dari tiga Majus dari Timur dan gembala-gembala sekitar Betlehem yang diterima oleh Maria dan Yosef.

Kisah Natal adalah suatu penolakan terhadap keangkuhan suatu kekuasaan. Petani Jambi dan perwakilan suku anak dalam yang tanahnya dirampas harus berhadapan dengan kekuasaan. Sebagian dari mereka tidak ditanggapi oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dengan angkuhnya. Sang Menteri lebih memilih menari Gangnam Style daripada mendengarkan keluhan rakyat petani. 

Kisah Natal adalah suatu penolakan terhadap keangkuhan suatu kekuasaan. Polisi dan militer menghalangi umat gereja HKBP Filadelfia yang ingin beribadah di Gerejanya. Mereka membiarkan FPI melempari umat HKBP dengan air kotor dan sampah. Negara kehilangan fungsinya dalam melindungi warga negaranya. Negara hanya menjadi simbol keangkuhan suatu pihak yang menindas pihak lainnya.

Kisah Natal adalah suatu penolakan terhadap keangkuhan suatu kekuasaan. Di hari Natal ini, segenap keangkuhan yang kumiliki menjadi hilang maknanya. Segenap identitas yang membanggakan seperti titel sarjana dari perguruan tinggi itu maupun titel master lulusan negara anu tidak memiliki makna. Senyum manis dan otak cemerlang yang kumiliki bisa membuatku mempengaruhi orang lain. Namun kekuasaan ini tak ada maknanya di hari Natal ini. Aku ingin merenung dalam kesunyian jiwaku di Natal ini dan lepas dari hingar-bingar kekuasaan.

***

Selamat Natal & Tahun Baru! 

Bremen, 26 Desember 2012

iscab.saptocondro  

Thursday, December 24, 2009

Selamat Natal 2009

Sehari sebelum Natal 2009.

Hari ini, aku bangun pagi (pagi? siang kaleeee) setelah kemarin mendonor plasma darah, merapikan bulu dan jalan-jalan di Weihnachtsmarkt Bremen serta mengecek kondisi keuangan di bank.

Setelah bangun, kucek email, Plurk, dan Facebook. Banyak ucapan Natal walaupun belum 25 Desember. Banyak teman yang tidak bakal sempat mengucap selamat hari raya karena mereka bakal pergi liburan. Jadinya mereka memberiku selamat sebelum hari-H.

Natal ini, aku memilih tetap di Bremen. Aku tidak pergi jalan-jalan ke luar kota (dan negeri). Aku lagi menghemat uang dan juga visa yang kumiliki kurang panjang untuk dipakai liburan ke luar negeri.

Sore ini, aku akan pergi ke gereja St. Johann untuk misa Malam Natal. Ada permainan trompet. Setelah itu, datang ke undangan makan-makan di rumah Mas Yadi.

Walaupun belum hari Natal, kuucapkan saja
Selamat Natal 2009!
Damai di bumi, damai di hati!

***

Natal ini kurenungkan bahwa diriku belum lulus kuliah master di Uni Bremen. Padahal ini sudah semester VIII. Ternyata aku gagal lagi kuliah tepat waktu. Selain itu, tahun ini, aku dapat hadiah ulang tahun berupa surat (usulan) pemecatan dari tempat kerjaku di Indonesia. Hadiah lain saat ultah di bulan Juli adalah kabar bahwa cintaku dipastikan kandas seiring berita bahwa wanita yang kucintai sudah menemukan cinta yang baru, yang bukan diriku.

Natal dan akhir tahun 2009 kupakai untuk memantapkan diri untuk berjuang demi kelulusan master yang tertunda lama dan demi pekerjaan di Jerman, terutama pekerjaan Wissenschaftliche Mitarbeiter (artinya adalah peneliti atau researcher atau scientist). Liburan Natal ini aku diminta (oleh supervisor tercinta, yang kaga punya akun Facebook) untuk mencoba simulasi data EEG yang belum diolah. Padahal m-file MATLAB yang telah kubuat adalah untuk data yang sudah diolah.

Beberapa undangan makan-makan, baik yang gratis maupun yang urunan, tetap kuhadiri selama jadwal tidak bentrok dengan undangan makan-makan lain (hehehe). Ini diperlukan untuk mencegah kesepian akut. Karena berdasarkan penelitian, kesepian dapat menyebabkan orang kehilangan uang dan gagal mengikuti deadline serta kesepian bisa menular.

Natal ini, aku tetap jauh dari orang tua dan kerabat serta teman-teman tercinta di Bandung. Selain itu, banyak teman yang pergi berlibur ke luar kota dan ke luar negeri. Jadi aku harus mencari cara mengelola kesepian sambil tetap berkonsentrasi mengurus thesis dan memperindah curriculum vitae sembari mencari sesuap nasi.

***

Berbeda dengan tahun 2007, aku tak punya renungan Natal buat negaraku tercinta, Indonesia. Aku sudah malas memikirkan Indonesia. KPK, Bank Century, dan bla bla bla. Dulu aku punya cukup uang dan waktu untuk memikirkan negara. Sekarang aku cukup memikirkan thesis dan bagaimana cara sintas (survive) dalam studi tanpa jadi gelandangan dan kelaparan.

Selamat Natal 2009!
Selamat tinggal Indonesia!
Masa depanku adalah Eropa.

Tulisan lama tentang Natal di tahun 2007

Tulisan ini kubuat di tahun 2007 tentang Natal.
Kaga penting.

***

Selamat Natal 2007


Natal 2007


Fröhliche Weihnachten

Ini Natal kedua di Bremen, Jerman. Dingin, tanpa kehangatan pelukan Sang Kekasih.
Salju 3 hari lalu hilang terbasuh hujan. Misa Natal seperti biasa di St. Johann.
Tema khotbah tidak dapat kutangkap semua, maklum bahasa Jerman masih pas-pasan ditambah malas mendengar khotbah.

Merry Christmas

Pesta Natal kemarin dirayakan di rumah kawan-kawan Muslim, sebetulnya sih perayaan ultah salah satu penghuni rumah.
Kemudian datang MMA (asal Bogor, UI pula, punya nama mirip negara Afghanistan) dan TRY (asal Aceh, ITB pula), yang juga Muslim, tapi menenggak minuman beralkohol lebih banyak dari saya.
Datang A (asal Bandung, sempat mampir Kiel, tinggal dekat kuburan di Bremen).
Datang juga Sin, asal Singapura (kaga tahu gimana cara nulis namanya).
Lalu Aneta (cewe Rusia) yang rambutnya mirip Adam’s Family, ada putih alami (baca uban) yang membuat indah rambutnya.
Lalu Lorena (cewe Mexiko) yang kalau nari gayanya selalu aneh, loncat-loncat kaga karuan.
Oh, ya, ada juga Sunthar (cowo India, suku Tamil), ternyata suka dangdut Indo.

Feliz Navidad

Menu pesta natal itu, yang sempat masuk mulutku:
- keripik
- salat
- makaroni
- Amaretto (alkohol 28%), rasanya manis
- sepertinya Wein (alkohol 9%)
- Lorsch (alkohol 38%), rasanya kaya puyer
Perutku perut Indo. Minum minuman haram, kaga mabuk, malah sakit perut.
(yang aku kaga mabuk boleh dikomentari oleh hadirin pesta itu)
Tapi kaga nyangka, MMA dan TRY ini minum lebih banyak dariku.
Mudah-mudahan karir politik mereka di Indonesia kaga kena pengaruh alkohol.
Siapa tahu MMA ini bakal masuk PKS. Juga TRY ini bakal jadi gubernur Aceh suatu hari.
TRY entah mabuk atau tidak, malah nyanyi lagu Rhoma Irama sambil ketawa-ketawa, betul-betul paradox.
MMA ini tiba-tiba mengembangkan Mazhab Hanafi dan Syafii, katanya selama kaga mabuk, minuman itu tidak haram.
Tapi matanya mulai redup aneh.

Pozdrevlyayu s prazdnikom Rozhdestva i s Novim Godom

Einsamkeit? Jain.
Kaga ada pelukan hangat Sang Kekasih.
Kaga ada bokap nyokap. Kaga ada Eyang Kakung dan Eyang Putri.
Kaga ada Tante Ida, Tante Yayuk, Tante Riri, Tante Nana, Tante Vero, dll.
Kaga ada Om Beny, Om Rady, Om Asto, Om Budi, dll.
Kerabatku di negeri seberang, seperempat keliling bumi jauhnya.

Buono Natale

Lalu kawan-kawan kuliah dan kursus pada mudik.

Martha, cewe Polandia, cantik, matanya indah dan senyumnya manis, jurusan Desain Grafis.
Wajahnya ceria, jarang ada orang Polandia berwajah ceria.
Kaga jadi makan bareng denganku. Sekarang mudik ke Gdansk.

Isabelle, cewe Perancis, senyumnya manis, bokongnya berbulu lebat (tahu dari mana?), jurusan Ilmu Politik.
sempat di Mensa dilirik TRY (temanku asal Aceh itu lho).
Dia kaga bisa makan pakai sumpit dengan benar. Dia juga mudik ke Bordeaux.

Juan Alfonso ramirez Martinez juga mudik ke Mexico.
Jadi kaga ada kawan konsultasi Rhapsody dan Latex.

Roderich Wahsner, Bapak kosku.
Merayakan Natal di rumah sakit. Sepertinya tulang paha patah karena jalan licin, ada Glatteis di malam Natal.
Rumahku sepi (baca rumah kosku).

Akan tetapi ada orang Indonesia yang bisa kukunjungi:
Mas Yadi, Mba Mia, Dendy, Eva, Vita, Oecoep, dll.
Tiada yang lebih enak daripada makan dan minum gratis.
Mangan ora mangan sing penting ngumpul.
Kehangatan mereka pelipur kesepianku di Bremen.

Joyeux Noel

Natal ini, sembari diiringi lagu-lagu di radio dalam berbagai bahasa,
(Jerman, Perancis, Spanyol, Arab, dll - Jerman emang multikulti),
seusai pesta pora, kurenungkan beberapa hal.

Mengapa ketika mendengar cerita Natal, aku terbayang bayi-bayi yang terbuang?
Di Jerman, koran memberitakan bayi yang dibuang di tempat sampah atau di pinggir jalan.
Angela Merkel dan parlemen Jerman sempat berbicara tentang perlindungan anak harus masuk "Grundgesetzt" (semacam UUD Jerman?).
Di Bandung, sebulan sekali, katanya selalu ada 1-2 berita koran, tentang bayi dibuang di sungai Cikapundung yang membelah kota kembang ini.

Aku membayangkan Maria yang mengandung Yesus, sembari membayangkan kegundahan wanita yang hamil tak diinginkan.
Entah kaga pakai kondom (dan pil, serta alat kontrasepsi lain), entah ditipu lelaki, entah diapa-apain.
Aku membayangkan kegundahan Yusuf yang bingung mau menikahi Maria atau tidak. Sempat dia berpikir menikah lalu cerai.
Kegundahan yang sama dengan laki-laki ogah kondom yang menghamili pacarnya. Nikah dulu baru cerai.
Jadi nikah itu cuma demi status, ya?

Untung, Yusuf ketemu malaikat yang datang jauh-jauh dari surga (Emangnya surga itu jauh, ya?).
Jadi dia bisa diyakinkan untuk menikahi Maria dan menemani Maria di masa-masa kehamilannya lalu di masa persalinannya.
Ini adalah Suami SIAGA (Siap Antar Jaga).

I’D Miilad Said ous Sana Saida

Satu lagi, aku membayangkan Kaisar pertama Romawi yaitu Agustus.
Dia bikin sensus penduduk yang mewajibkan penduduk balik ke daerah asalnya.
Bikin aturan kok rumit-rumit, ya?
aku membayangkan birokrasi Indonesia yang kadang-kadang menyebalkan.
Maria lagi hamil harus pergi jalan kaki ke Jerusalem.

Lalu ketika sudah kontraksi, Maria tidak bisa mendapat tempat bersalin layak.
Semua menolak yusuf dan Maria.
Jadi ingat ibu-ibu miskin yang ditolak rumah sakit di Indonesia.
Atau ibu-ibu miskin yang bayinya ditahan rumah sakit, tidak boleh diambil sebelum melunasi biaya rumah sakit.
Ibu miskin yang tidak dapat hak operasi caesar, dipaksa melahirkan normal, yang akhirnya kepala bayi sampai putus.
Kehamilan dan persalinan pertama yang traumatis, melihat darah muncrat dari badan kecil tanpa kepala.
Pantas saja angka kematian ibu melahirkan di Indonesia tinggi.
Orang miskin dilarang melahirkan.

Wesolych Swiat i Szczesliwego Nowego Roku

Ada pula Raja Herodes. Raja Israel yang cuma tahu pesta pora dan bayar upeti kepada Romawi.
Tidak bisa melawan penjajah Romawi. Tapi lebih milih membunuh bangsa sendiri.
Jadi ingat militer Indonesia. Tidak mampu melawan negara asing, tapi menindas rakyatnya sendiri.
Pemerintah kita tak berdaya menghadapi penindasan ekonomi bangsa asing, tapi cukup uang untuk menggebuki rakyatnya sendiri.
Herodes ini yang membuat Yusuf dan MAria harus pergi ke Mesir, karena menyerukan anak-anak yang lahir pada saat itu dibunuh.
Jadi terbayang negara Indonesia, yang tak mampu melindungi hak anak.
Banyak anak mati kurang gizi. Ditelantarkan, dll.

Apapun yang terjadi, anak metal selalu optimis, sukanya ngangguk-ngangguk.
Semoga setahun kedepan, dunia lebih baik.

Sembari belajar C++,
berteman Toblerone 750 gram, hasil cuci gudang,
dengan penuh harapan, tahun depan lulus master,
kuucap dari hati terdalam,

Selamat Natal 2007
(dan tahun baru 2008)

Damai di bumi, damai di hati


***