Pages

Thursday, December 24, 2009

Selamat Natal 2009

Sehari sebelum Natal 2009.

Hari ini, aku bangun pagi (pagi? siang kaleeee) setelah kemarin mendonor plasma darah, merapikan bulu dan jalan-jalan di Weihnachtsmarkt Bremen serta mengecek kondisi keuangan di bank.

Setelah bangun, kucek email, Plurk, dan Facebook. Banyak ucapan Natal walaupun belum 25 Desember. Banyak teman yang tidak bakal sempat mengucap selamat hari raya karena mereka bakal pergi liburan. Jadinya mereka memberiku selamat sebelum hari-H.

Natal ini, aku memilih tetap di Bremen. Aku tidak pergi jalan-jalan ke luar kota (dan negeri). Aku lagi menghemat uang dan juga visa yang kumiliki kurang panjang untuk dipakai liburan ke luar negeri.

Sore ini, aku akan pergi ke gereja St. Johann untuk misa Malam Natal. Ada permainan trompet. Setelah itu, datang ke undangan makan-makan di rumah Mas Yadi.

Walaupun belum hari Natal, kuucapkan saja
Selamat Natal 2009!
Damai di bumi, damai di hati!

***

Natal ini kurenungkan bahwa diriku belum lulus kuliah master di Uni Bremen. Padahal ini sudah semester VIII. Ternyata aku gagal lagi kuliah tepat waktu. Selain itu, tahun ini, aku dapat hadiah ulang tahun berupa surat (usulan) pemecatan dari tempat kerjaku di Indonesia. Hadiah lain saat ultah di bulan Juli adalah kabar bahwa cintaku dipastikan kandas seiring berita bahwa wanita yang kucintai sudah menemukan cinta yang baru, yang bukan diriku.

Natal dan akhir tahun 2009 kupakai untuk memantapkan diri untuk berjuang demi kelulusan master yang tertunda lama dan demi pekerjaan di Jerman, terutama pekerjaan Wissenschaftliche Mitarbeiter (artinya adalah peneliti atau researcher atau scientist). Liburan Natal ini aku diminta (oleh supervisor tercinta, yang kaga punya akun Facebook) untuk mencoba simulasi data EEG yang belum diolah. Padahal m-file MATLAB yang telah kubuat adalah untuk data yang sudah diolah.

Beberapa undangan makan-makan, baik yang gratis maupun yang urunan, tetap kuhadiri selama jadwal tidak bentrok dengan undangan makan-makan lain (hehehe). Ini diperlukan untuk mencegah kesepian akut. Karena berdasarkan penelitian, kesepian dapat menyebabkan orang kehilangan uang dan gagal mengikuti deadline serta kesepian bisa menular.

Natal ini, aku tetap jauh dari orang tua dan kerabat serta teman-teman tercinta di Bandung. Selain itu, banyak teman yang pergi berlibur ke luar kota dan ke luar negeri. Jadi aku harus mencari cara mengelola kesepian sambil tetap berkonsentrasi mengurus thesis dan memperindah curriculum vitae sembari mencari sesuap nasi.

***

Berbeda dengan tahun 2007, aku tak punya renungan Natal buat negaraku tercinta, Indonesia. Aku sudah malas memikirkan Indonesia. KPK, Bank Century, dan bla bla bla. Dulu aku punya cukup uang dan waktu untuk memikirkan negara. Sekarang aku cukup memikirkan thesis dan bagaimana cara sintas (survive) dalam studi tanpa jadi gelandangan dan kelaparan.

Selamat Natal 2009!
Selamat tinggal Indonesia!
Masa depanku adalah Eropa.

Tulisan lama tentang Natal di tahun 2007

Tulisan ini kubuat di tahun 2007 tentang Natal.
Kaga penting.

***

Selamat Natal 2007


Natal 2007


Fröhliche Weihnachten

Ini Natal kedua di Bremen, Jerman. Dingin, tanpa kehangatan pelukan Sang Kekasih.
Salju 3 hari lalu hilang terbasuh hujan. Misa Natal seperti biasa di St. Johann.
Tema khotbah tidak dapat kutangkap semua, maklum bahasa Jerman masih pas-pasan ditambah malas mendengar khotbah.

Merry Christmas

Pesta Natal kemarin dirayakan di rumah kawan-kawan Muslim, sebetulnya sih perayaan ultah salah satu penghuni rumah.
Kemudian datang MMA (asal Bogor, UI pula, punya nama mirip negara Afghanistan) dan TRY (asal Aceh, ITB pula), yang juga Muslim, tapi menenggak minuman beralkohol lebih banyak dari saya.
Datang A (asal Bandung, sempat mampir Kiel, tinggal dekat kuburan di Bremen).
Datang juga Sin, asal Singapura (kaga tahu gimana cara nulis namanya).
Lalu Aneta (cewe Rusia) yang rambutnya mirip Adam’s Family, ada putih alami (baca uban) yang membuat indah rambutnya.
Lalu Lorena (cewe Mexiko) yang kalau nari gayanya selalu aneh, loncat-loncat kaga karuan.
Oh, ya, ada juga Sunthar (cowo India, suku Tamil), ternyata suka dangdut Indo.

Feliz Navidad

Menu pesta natal itu, yang sempat masuk mulutku:
- keripik
- salat
- makaroni
- Amaretto (alkohol 28%), rasanya manis
- sepertinya Wein (alkohol 9%)
- Lorsch (alkohol 38%), rasanya kaya puyer
Perutku perut Indo. Minum minuman haram, kaga mabuk, malah sakit perut.
(yang aku kaga mabuk boleh dikomentari oleh hadirin pesta itu)
Tapi kaga nyangka, MMA dan TRY ini minum lebih banyak dariku.
Mudah-mudahan karir politik mereka di Indonesia kaga kena pengaruh alkohol.
Siapa tahu MMA ini bakal masuk PKS. Juga TRY ini bakal jadi gubernur Aceh suatu hari.
TRY entah mabuk atau tidak, malah nyanyi lagu Rhoma Irama sambil ketawa-ketawa, betul-betul paradox.
MMA ini tiba-tiba mengembangkan Mazhab Hanafi dan Syafii, katanya selama kaga mabuk, minuman itu tidak haram.
Tapi matanya mulai redup aneh.

Pozdrevlyayu s prazdnikom Rozhdestva i s Novim Godom

Einsamkeit? Jain.
Kaga ada pelukan hangat Sang Kekasih.
Kaga ada bokap nyokap. Kaga ada Eyang Kakung dan Eyang Putri.
Kaga ada Tante Ida, Tante Yayuk, Tante Riri, Tante Nana, Tante Vero, dll.
Kaga ada Om Beny, Om Rady, Om Asto, Om Budi, dll.
Kerabatku di negeri seberang, seperempat keliling bumi jauhnya.

Buono Natale

Lalu kawan-kawan kuliah dan kursus pada mudik.

Martha, cewe Polandia, cantik, matanya indah dan senyumnya manis, jurusan Desain Grafis.
Wajahnya ceria, jarang ada orang Polandia berwajah ceria.
Kaga jadi makan bareng denganku. Sekarang mudik ke Gdansk.

Isabelle, cewe Perancis, senyumnya manis, bokongnya berbulu lebat (tahu dari mana?), jurusan Ilmu Politik.
sempat di Mensa dilirik TRY (temanku asal Aceh itu lho).
Dia kaga bisa makan pakai sumpit dengan benar. Dia juga mudik ke Bordeaux.

Juan Alfonso ramirez Martinez juga mudik ke Mexico.
Jadi kaga ada kawan konsultasi Rhapsody dan Latex.

Roderich Wahsner, Bapak kosku.
Merayakan Natal di rumah sakit. Sepertinya tulang paha patah karena jalan licin, ada Glatteis di malam Natal.
Rumahku sepi (baca rumah kosku).

Akan tetapi ada orang Indonesia yang bisa kukunjungi:
Mas Yadi, Mba Mia, Dendy, Eva, Vita, Oecoep, dll.
Tiada yang lebih enak daripada makan dan minum gratis.
Mangan ora mangan sing penting ngumpul.
Kehangatan mereka pelipur kesepianku di Bremen.

Joyeux Noel

Natal ini, sembari diiringi lagu-lagu di radio dalam berbagai bahasa,
(Jerman, Perancis, Spanyol, Arab, dll - Jerman emang multikulti),
seusai pesta pora, kurenungkan beberapa hal.

Mengapa ketika mendengar cerita Natal, aku terbayang bayi-bayi yang terbuang?
Di Jerman, koran memberitakan bayi yang dibuang di tempat sampah atau di pinggir jalan.
Angela Merkel dan parlemen Jerman sempat berbicara tentang perlindungan anak harus masuk "Grundgesetzt" (semacam UUD Jerman?).
Di Bandung, sebulan sekali, katanya selalu ada 1-2 berita koran, tentang bayi dibuang di sungai Cikapundung yang membelah kota kembang ini.

Aku membayangkan Maria yang mengandung Yesus, sembari membayangkan kegundahan wanita yang hamil tak diinginkan.
Entah kaga pakai kondom (dan pil, serta alat kontrasepsi lain), entah ditipu lelaki, entah diapa-apain.
Aku membayangkan kegundahan Yusuf yang bingung mau menikahi Maria atau tidak. Sempat dia berpikir menikah lalu cerai.
Kegundahan yang sama dengan laki-laki ogah kondom yang menghamili pacarnya. Nikah dulu baru cerai.
Jadi nikah itu cuma demi status, ya?

Untung, Yusuf ketemu malaikat yang datang jauh-jauh dari surga (Emangnya surga itu jauh, ya?).
Jadi dia bisa diyakinkan untuk menikahi Maria dan menemani Maria di masa-masa kehamilannya lalu di masa persalinannya.
Ini adalah Suami SIAGA (Siap Antar Jaga).

I’D Miilad Said ous Sana Saida

Satu lagi, aku membayangkan Kaisar pertama Romawi yaitu Agustus.
Dia bikin sensus penduduk yang mewajibkan penduduk balik ke daerah asalnya.
Bikin aturan kok rumit-rumit, ya?
aku membayangkan birokrasi Indonesia yang kadang-kadang menyebalkan.
Maria lagi hamil harus pergi jalan kaki ke Jerusalem.

Lalu ketika sudah kontraksi, Maria tidak bisa mendapat tempat bersalin layak.
Semua menolak yusuf dan Maria.
Jadi ingat ibu-ibu miskin yang ditolak rumah sakit di Indonesia.
Atau ibu-ibu miskin yang bayinya ditahan rumah sakit, tidak boleh diambil sebelum melunasi biaya rumah sakit.
Ibu miskin yang tidak dapat hak operasi caesar, dipaksa melahirkan normal, yang akhirnya kepala bayi sampai putus.
Kehamilan dan persalinan pertama yang traumatis, melihat darah muncrat dari badan kecil tanpa kepala.
Pantas saja angka kematian ibu melahirkan di Indonesia tinggi.
Orang miskin dilarang melahirkan.

Wesolych Swiat i Szczesliwego Nowego Roku

Ada pula Raja Herodes. Raja Israel yang cuma tahu pesta pora dan bayar upeti kepada Romawi.
Tidak bisa melawan penjajah Romawi. Tapi lebih milih membunuh bangsa sendiri.
Jadi ingat militer Indonesia. Tidak mampu melawan negara asing, tapi menindas rakyatnya sendiri.
Pemerintah kita tak berdaya menghadapi penindasan ekonomi bangsa asing, tapi cukup uang untuk menggebuki rakyatnya sendiri.
Herodes ini yang membuat Yusuf dan MAria harus pergi ke Mesir, karena menyerukan anak-anak yang lahir pada saat itu dibunuh.
Jadi terbayang negara Indonesia, yang tak mampu melindungi hak anak.
Banyak anak mati kurang gizi. Ditelantarkan, dll.

Apapun yang terjadi, anak metal selalu optimis, sukanya ngangguk-ngangguk.
Semoga setahun kedepan, dunia lebih baik.

Sembari belajar C++,
berteman Toblerone 750 gram, hasil cuci gudang,
dengan penuh harapan, tahun depan lulus master,
kuucap dari hati terdalam,

Selamat Natal 2007
(dan tahun baru 2008)

Damai di bumi, damai di hati


***